bagaimana nilai sobat terhadap blog ini
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Aku Rindu Sahabatku
.
Jam sudah menunjukan pukul 06:30, namun langit masih nampak gelap
terselimuti awan hitam. Hembusan angin pun terasa sangat ngilu menembus
pori-pori kulitku, nampaknya cuaca hari ini tidak bagus atau mungkin
paham akan hatiku yang kacau balau tak menentu. “Ayell, kenapa masih
disitu? Cepat berangkat nanti keburu hujan”. Ujar bundaku setengah
berteriak. “Ya bun..” sahutku lemas, sambil memulai mengayuh sepeda, aku
berangkat dengan hati tanpa semangat. Aku masih tidak percaya dengan
perkataan Fakhri sahabatku kemarin, dengan ringannya ia berkata ‘tolong
ngertiin gue, gue sekarang udah punya Fairy pacar gue, dan dia gak suka
gue deket-deket lo, jadi jauhi gue dulu’. Perkataan yang tak pernah aku
sangka bisa terlontar begitu ringannya dari mulut sahabat terbaikku
selama ini, 9 tahun bersahabat dan dia memintaku menjauhinya hanya
karena seorang Fairy yang baru dikenalnya.
Sesampainya di sekolah, aku masih belum bisa menepis bayangan
kata-kata menyakitkan itu. Aku duduk di kursi koridor sekolah, tatapanku
kosong, persaanku tak menentu, hatiku merasa sangat sepi entahlah
padahal anak-anak berlalu lalang di depanku tanpa henti. “Ayeeell”
teriak Saufi membuyarkan lamunanku. “Ah lo ini bikin gue kaget aja”
“Haha.. sory sory, eh Fakhri kemana?”. Tegg.. rasanya ingin berteriak
“gue bukan sahabatnya lagi!” tapi hatiku masih berharap Fakhri akan
kembali. “Heh.. ditanya malah bengong!” sentak Saufi. “Gak tau, gue gak
tau” ujarku terbata. “Tumben lo gak tau, katanya soulmate”. aku hanya
tertunduk lesu “kenapa lo, lagi ada masalah sama Fakhri?” tanya Saufi
yang melihat perubahan ekspresi wajahku “Gak papa.. ke kelas yuk”
sahutku seraya beranjak menuju kelas.
Sepulang sekolah aku membaringkan tubuhku di atas kasur, aku coba
melupakan semuanya, melupakan perkataan menyakitkan yang terlontar dari
mulut Fakhri kemarin. Namun entah, semakin aku mencoba melupakan semakin
sering perkataan itu muncul di benakku. Ku coba menghilangkan rasa
sedihku dengan membuka jejaring sosial, berharap ada sedikit hiburan di
dalamnya yang membuatku sejenak lupa dengan perkataan Fakhri. Aku mulai
membuka twitter, deggg… aku terhenyat ketika Fakhri tak lagi jadi
followers ku, itu artinya di meng’unfollow twitter ku. Tak terasa air
mataku mengalir, “Apa segitu gak maunya lagi lo kenal gue Ri” desisku
lirih. Aku menangis dalam kesendirian, menagisi kekecewaan yang teramat
perih.
Aku merasa semuanya telah berlalu, persahabatan yang aku jaga
bertahun-tahun hancur dalam hitungan hari, dan semua itu karena cinta.
Karena cinta Fakhri yang mungkin teramat dalam untuk Fairy, sehingga dia
tak lagi peduli dengan perasaan sahabatnya ini. Aku tahu kami kini tak
lagi anak-anak, tak lagi berbaju merah putih atau putih biru, dan aku
mengerti kedewasaan itu mulai menghampiri mulai memperkenalkan cinta
yang akut. Tapi apa cinta itu harus mengorbankan SAHABAT? entahlah yang
pasti aku rindu sahabatku yang dulu, sahabatku yang lucu dan jahil,
sahabatku yang tak pernah lupa mengingatkanku, sahabatku yang selalu
mewarnai hariku, sahabatku yang baik, yang menemaniku setiap hal pertama
yang aku lakukan di dunia ini. Namun sekarang telah berbeda dia telah
menjelma menjadi orang dewasa yang menyebalkan.
Tak terasa sudah sepekan aku tak berkomunikasi dengan Fakhri, aku
mencoba untuk mengikuti keinginannya untuk tak lagi menyapa kehidupan
barunya, ya.. kehidupannya bersama Fairy kekasih terhebatnya. Pagi ini
aku memilih menghabiskan akhir pekan di taman favoritku dan… “aaah…”
rasanya tak perlu menyebut nama itu lagi. Seperti hari-hari kemarin tak
ada yang istimewa di akhir pekanku kali ini, tak ada lagi jalan-jalan,
bersepeda atau bersandau gurau riang, seperti akhir pekan yang lalu.
Memang tadi pagi Saufi dan Taliva mengajaku hangout bersama, tapi
rasanya tak ada gairah untuk pergi kemanapun. Aku hanya ingin sendiri
saat ini, menikmati kesepian yang sedang menghampiri hidupku.* Ah…
rasanya galauku berlebihan dia hanya S.A.H.A.B.A.T ku dan tak lebih *
kata-kata itu yang sedang coba ku rangkai, di benaku sekarang. Aku duduk
terdiam, menatap langit yang kebetulan terlihat begitu biru pagi ini,
namun sayang tak sebiru hatiku. Tiba-tiba handpone ku berdering,
menandakan ada pesan singkat yang masuk,
From: Fakhri
Lo dimana? Bisa ketemu?
Aku masih tak percaya Fakhri mengirim pesan, setelah sepekan dia
melupakan ku, tanpa komunikasi septah kata pun. Tanpa pikir panjang aku
langsung membalas pesan dari Fakhri.
To: Fakhri
Category cerpen
Mariantje dan Pasangan Tua
.

Rabu pagi yang bercahaya, mereka terbangun dalam satu selimut. Laura dan Don masih bersama. Tak ada yang pergi lebih dahulu. Tuhan masih ingin melihat mereka melewati hari-hari baru.
Setiap malam, menjelang kelopak mata mengatup, Laura akan memasukkan jemarinya ke sela-sela jemari Don. Ritual rahasia mereka, yang hanya diketahui oleh Mariantje.
Perlahan-lahan Laura bangkit dari ranjang, mengamati rambut yang setiap helainya telah kelabu. Mengamati pipi dan dagunya yang sudah kisut.
Tiga tahun lalu, dia masih sering duduk di depan meja rias ini, menyemir rambutnya sembari bersenandung lagu jazz kuno. Dia dan Don penyuka jazz. Mereka menikmati jazz sejak pertama kali jazz masuk Batavia.
Dia masih ingat, suatu malam Batavia begitu ramai, beberapa musikus Filipina datang untuk mencari kerja. Di lobi hotel dan jalan-jalan, mereka memperkenalkan instrumen angin. Trompet. Saksofon. Boleros. Rumba. Ah, kenangan itu selalu bagai hembusan angin sore yang menenangkan.
Ingatan pada irama jazz pertama kali di kota ini selalu abadi di kepalanya, sebab pada hari itu pula, sesuatu yang membuatnya bahagia telah terjadi.
Mula-mula Don membeli dua buah tiket untuk menonton pertunjukan jazz di Hotel Des Indes. Waktu itu, umur Don 18 tahun. Masih muda dan senang memakai topi bowler—serupa topi yang sering dikenakan Charlie Chaplin—celana pantalon, dan jas.
Adapun Laura berumur 16 tahun, mengenakan gaun shifon bertabur bunga lotus, dia naik trem bersama Don. Keberangkatan mereka ke Hotel Des Indes bersamaan dengan elektrifikasi pertama kali pada jalur kereta api rute Batavia-Buitenzorg.
Category cerpen
Ludwig dan Aku Membunuh Hitler Tanpa Alasan (Musim Semi di Berlin)
.

“TAMBAH lagi pepperoninya?” usul Ludwig.
“Terima kasih, aku sudah kenyang.” Kutepuk-tepuk perutku.
“Kenyang,” seolah terpesona, Ludwig mengulang kata itu, “Lama sekali aku baru dengar kata itu lagi.”
Dia menatap tajam-tajam pada pengaduk pepperoni di meja yang terbuka seolah-olah tengah menatap seorang kawan lama yang mengingatkan dirinya pada kenangan indah masa kanak-kanak. Dia seperti tercekam oleh kenangan itu. Saat itu, selama beberapa waktu selalu terdengar bunyi ledakan dari luar, dan jika kau menekankan wajah pada kaca jendela, kau akan melihat Gereja Prancis yang terbakar, dan tiang-tiang lampu di tepian jalan ambruk bagaikan para penjaga yang tertidur saat bertugas. Ludwig berlalu dari jendela dan pada kaca tertinggal jejak minyak dari hidungnya.
“Tentara Rusia bangsat itu tak akan berhenti hingga tak ada lagi yang bisa dihancurkan di Berlin ini,” desisnya dengan geram. Pandangannya mengitari ruangan seakan-akan ingin mencari sesuatu yang bisa dia hancurkan. Tapi tak ada apa pun selain sebuah meja dan dua kursi, dan di atas meja itu hanya ada pepperoni. Ludwig mendekatkan mukanya ke pepperoni itu, dan membauinya. “Setelah pepperoni, yang kita butuhkan itu bir,” gumamnya pada diri sendiri, “Tapi tak akan kita temukan di sini.”
Dia mengedikkan bahu.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?” ajak Ludwig. “Bagus untuk pencernaan kita.”
Kami saling mengangsurkan jaket masing-masing. Ludwig menghilang ke ruang sebelah dan kembali dengan membawa senapan berburu.
“Aku dapat ini dari Opa Gunther untuk hadiah ulang tahunku ketujuhbelas,” ujarnya dengan mata bersinar-sinar, “Yah mungkin kita bisa menukarnya dengan sebotol anggur atau beberapa botol bir.”
Kami keluar dan seolah-olah kami terlempar ke suatu tempat yang belum pernah sekali pun kami datangi. Jalanan begitu jelek untuk ukuran Berlin, dan cuacanya begitu dingin pada akhir April seperti sekarang. Ludwig mengapit senapan ketika dia memakai sepasang sarung tangan wol yang sudah sobek-sobek.
“Jalan-jalan ini bisa menghangatkan tubuh kita,” bisiknya.
***
KAMI menyusuri bulevar. Ludwig terus-menerus meniup tangannya
agar tetap hangat seolah-olah uapnya mampu menyelusup ke sobekan sarung
tangannya. Sedikit lampu jalan yang masih tegak tak lagi menyala, tapi
gedung-gedung yang terbakar di sekitar kami memberikan cahaya yang
cukup. Ludwig berhenti di dekat sebuah poster bergambar Der Fuhrer. Dia menunjuk dan berkata dengan bangga, “Dia dan aku belajar di sekolah yang sama di Linz. Dia dua tingkat di bawahku.”Ludwig memandangi kembali senapannya seolah-olah lupa senapan itu ada dalam kempitannya. Sekali lagi, matanya menyiratkan bahwa dirinya tengah mengenang sesuatu.
“Pada tahun terakhir aku di Linz itulah Opa Gunther memberiku senapan ini. Aku kemudian bersama Anna, gadis pertama yang benar-benar kusentuh,” tambahnya sembari meneliti jari-jemarinya yang mempermainkan untaian benang dari sobekan sarung tangan. “Adolf jatuh cinta padanya. Dia bawakan Anna bunga, permen, dan lukisan karyanya. Aku kasihan pada lelaki kecil itu. Dia begitu pendek. Setinggi pipi Anna.” Ludwig meletakkan tangan kirinya sejajar dengan pipinya. “Lagi pula, dia lebih muda dari kami berdua, lebih tepatnya masih kanak-kanak. Dia belum punya kumisnya yang lucu itu,” ujarnya sembari menunjuk poster.
“Ada hal yang sangat menyedihkan dalam kaitannya dengan Anna, caranya mendapatkan hati Anna, meski gadis itu selalu memperlakukannya dengan sabar dan hormat. Suatu hari Anna datang padaku menunjukkan gambar dirinya yang dibuat Adolf. Dia menjajarkan gambar itu dengan mukanya. Sama sekali tak mirip. Sungguh, Anna itu cantik, tapi figur dalam gambar itu jauh lebih cantik lagi. Figur itu sangat sempurna, bak seorang mahadewi, seperti salah seorang Valkyrie yang kita pelajari dalam kelas sastra. Anna menolak saat aku ingin menyentuh gambar itu. Dia bilang akan meninggalkanku sebab dia jatuh cinta pada Adolf.”
Ludwig mengunjal napas, dan aku terus-menerus memandangi kabut uap yang berkelindan di atasnya. “‘Kau berjiwa besar, Ludwig,’ ujar Anna, ‘Kau juga tak bodoh, kecuali memang kau tak punya imajinasi. Tapi Adolf punya.’ Mata Anna bersinar-sinar, ‘Adolf itu seorang seniman.’ Kulewatkan sore itu di atap dengan senapan baru pemberian Opa sambil membayangkan sekiranya aku membunuh Adolf, membunuh Anna, dan bunuh diri.”
Ludwig mengarahkan senapannya ke sasaran yang tak terlihat. “Dor! Dor!” ujarnya membuat suara tembakan. “Dan dia bilang aku ini tak punya imajinasi,” ujarnya sembari tersenyum sedih padaku.
“Seorang seniman,” rutuknya, “Akan kuceritakan kepadamu sesuatu tentang seni,” tambahnya dengan geram. “Sigfried, saudara lelaki ibuku selalu membuat patung dari keju. Dia bisa berjam-jam membuat patung. Setiap kali bergabung dengan kami untuk makan, dia telah membuat patung: kuda, merpati, atau Sombrero. Ibuku akan menjajarkan patung-patung itu di rak, dan dalam tiga hari pasti baunya sudah tak sedap dan berjamur sehingga kami harus membuangnya.”
Ludwig menendang tiang lampu yang ambruk. Senapannya jatuh dan menimpa lantai jalan. Dengan menunduk dia mengambilnya, dan ketika tegak, matanya bersitatap dengan mataku. “Keju itu dibuat untuk dimakan,” nadanya menyiratkan keacuhan.
***
DI Gerbang Alexanderplatz, kami tersandung sesosok tubuh.
Dengan malu-mau Ludwig memutar sosok itu dan mencoba memeriksa nadinya.
Tubuh seorang perempuan muda yang gaunnya basah oleh darah. Bahkan
sekarang, sudah mati pun mukanya masih menampakkan kesakitan. Ludwig
menyandarkan senapan pada pagar salah satu rumah dan mengangkat mayat
itu. Tak ada lagi tempat untuk menguburnya. Dengan hati-hati, Ludwig
meletakkan jasad perempuan itu di tempat duduk belakang Volkswagen
terbuka yang ada di situ. Dia melepas mantelnya untuk menutupi mayat
itu. Lalu dia kembali untuk mengambil senapannya sebelum kami kembali
berjalan. “Sungguh petang yang aneh,” ujar Ludwig dengan suara bergetar,
bersidekap seakan-akan dengan begitu dia mampu menangkal dingin.
“Kuberikan jaketku pada perempuan itu, dan aku bahkan tak tahu namanya.
Sungguh terkutuk.” Dengan suara masih bergetar dia melanjutkan, “Aku
bahkan tak tahu warna matanya.”Di dekat puing-puing gedung opera, Ludwig menemukan tiga botol minuman dari prem dan seorang pemabuk. Pemabuk itu mengenakan pakaian usang dan botol-botol itu telah kosong.
“Maaf, Tuan-tuan,” ujar si pemabuk sembari menunduk hingga hampir kehilangan keseimbangan. “Punyakah Tuan-tuan sesuatu untuk meredakan rasa sakit laknat yang bersemayam di dalam kepalaku?”
“Yang kupunya hanya sepasang sarung tangan dan senapan,” jawab Ludwig yang terlihat kecewa lantaran botol-botol itu kosong. Si pemabuk mengukur kaliber senapan dengan jarinya.
“Tidak, ini terlalu kecil,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kukira itu akan membuatku kesakitan.”
Pemabuk itu menyandarkan punggung pada tiang lampu dan tergelincir ke posisi duduk, dan mencoba memandangi gedung opera dengan tatapan nanar. “Sungguh tak patut bangunan umum di Berlin dirawat dengan buruk akhir-akhir ini.”Tangan kanannya menarik lipatan celanaku.
“Tolong besok ingatkan saya untuk menulis surat protes pada Dewan Kota,” ujar Ludwig. Dia masih mencengkeram botol tapi tanpa minat lagi.
“Sekitar satu jam berputar-putar dan tak satu pun kami jumpai orang yang hidup.” Jelas sekali suaranya yang gemetaran yang mengguncang-guncang tubuhnya lantaran dia masih kepikiran perempuan muda itu.
“Tentu saja tidak,” ujar si pemabuk, “Kau belum menjumpai seorang pun karena mereka semua ada di tempat Konser Simfoni.”
“Apa yang kaubicarakan?” suara Ludwig terasa menyembunyikan kejenuhannya. “Lebih dari dua tahun Konser Simfoni sudah tak dimainkan.”
“Tapi meriam,” ujar si pemabuk sambil menunjuk langit, “Aku yakin mereka memainkan lagi Orkestra Simfoni 1812.”
Merasa frustrasi, Ludwig melempar botol kosong ke tanah dan meremuknya. “Tak ada yang tersisa di kota mati ini,” bisiknya dan memandangku. “Bahkan bila kau itu nyata.” Kuteliti tanganku lewat cahaya dari api yang membakar Gereja Prancis. Ludwig benar.
“Ars longa, vita brevis,” ujar pemabuk itu, sedih.
“Maaf?” tanya Ludwig sambil menatap bingung.
“Tidak, tidak,” ujarnya dengan berani, “Bukan aku yang harus minta maaf.”
***
SUARA batuk dari sosok yang membungkuk ke meja kafe membuat
kami berdua melompat. Betapa anehnya Berlin yang sunyi setelah kau
terbiasa dengan bunyi ledakan. Ketika kami berjalan menuju kafe, Ludwig
menyisir rambutnya dengan tangan, seolah-olah akan ke tempat pertemuan
penting. Lelaki di meja kafe itu memakai jas hujan kelabu gelap. Mukanya
yang licin tampak tidak ramah, dan mata kecilnya menatap lekat pada
papan catur di depannya yang masih lengkap bidak-bidaknya. “Menarik,
sangat menarik,” gumamnya, “Bagaimana mungkin si Putih bisa membuat
sekakmat dalam tiga langkah?”Ludwig memicingkan mata untuk mengingat-ingat. Sontak senyum lebar terlihat di mukanya dan dengan sangat riang berlari ke arah lelaki berjas hujan itu.
“Adolf, kau kan itu, dan tanpa kumis lucumu, awalnya aku tak mengenalimu,” ujar Ludwig dengan tertawa, menjentikkan jari ke bibir atasnya membuat kumis tiruan.
“Sungguh, Adolf, betapa gembiranya aku bertemu wajah yang tak asing di kota kosong ini. Aku sudah menyusuri jalan lebih dari satu jam tanpa menjumpai orang yang masih bernyawa, seolah-olah seluruh kota bermain petak-umpat denganku.”
Hitler terus menatap tajam pada papan catur. Sebagian besar meja lain telah digulingkan dan bidak-bidaknya berserakan. “Adolf, ini aku, Ludwig dari Linz. Kenapa kau tak menjawabku?” Ludwig bertanya sambil menepuk lembut bahu lelaki itu.
“Ini sungguh masalah rumit,” Hitler berkomat-kamit, masih tampak asyik sendiri, tangan kanannya memijat bagian belakang lehernya.
“Jadi, tak pantaskah kau menjawabku, eh?” Ludwig mendesis geram. “Maka aku tak akan memaksamu bicara, Fuhrer.” Dia memberi tekanan setiap suku kata pada Fuhrer. “Yang kaubutuhkan adalah mendengarkan.”
Ludwig menyandarkan senapannya dan mulai bicara dengan nada menceracau. “Aku punya adik lelaki: Karl. Kau tak kenal dia. Dia lebih berbakat ketimbang aku. Orangtuaku mengirim dia belajar di Wina, tapi saat keluargaku bangkrut, kami pindah ke Jerman. Karl harus menghentikan sekolahnya dan mulai bekerja serabutan. Saat perang pecah, dia segara jadi sukarelawan untuk SS, dan dalam waktu cepat dia menjadi opsir. Sebelum berdinas militer, dia selalu menjadi orang yang riang, suka tersenyum, bersiul, dan bintang dalam pesta-pesta. Tapi sekarang,” Ludwid melanjutkan dengan nada sedih, “Sekarang, ketika dia berada di jalanan, mukanya tanpa ekspresi, kosong seperti zombi. Tiga bulan lalu, dia menembak dirinya dengan senjata dinasnya, dan itu semua karena kau, kau bajingan.” Ada isakan pada suara Ludwig, “Itu semua karena kau!”
“Harus kuakui,” gumam Hitler, “Masalah itu tampak muskil dipecahkan.”
Ludwig menatapnya dingin dan menikam. “Kau bajingan,” desisnya, dan senapan tuanya menyalak.
“Aneh benar,” ujarku pada Ludwig sembari mencermati papan catur. “Bagaimana mungkin kau melakukan sekakmat saat tak ada raja di papannya?”
“Ayo pulang,” bisik Ludwig, “Aku lelah.”
***
KAMI berjalan dengan terdiam. Waktu keluar dari
Alexanderplatz, Ludwig menyeka wajah lembabnya dengan punggung tangan.
“Aku minta maaf atas adegan memalukan di kafe tadi,” ujarnya sambil
menundukkan kepala. “Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Pasti sejenis
kegilaan sesaat. Dan sungguh hina. Aku bahkan tak punya saudara
lelaki.”“Dia banyak melakukan hal buruk. Dia pantas mati,” ujarku untuk menenangkannya.
“Mungkin begitu,” balas Ludwig, “tapi bukan itu alasan aku menembaknya.”
Kami berjalan lagi dalam diam di antara bunyi ledakan, dan Ludwig tertawa kecut, mirip suara tersedak. “Aku punya adik lelaki, Karl…,” katanya menirukan suaranya sendiri, “Dan Anna berani bilang aku tak punya imajinasi.”
Ada sebuah poster Der Fuhrer di dinding salah satu dari bangunan-bangunan itu. Aku membandingkan gambar itu dengan lelaki di kafe. “Kau benar, Ludwig,” ujarku, “Dia sungguh tampak lebih bagus tanpa kumis.” (*)
Catatan:
- Der Fuhrer: Sebutan untuk Adolf Hitler.
- Valkyrie: sebutan untuk dewi dalam mitologi Skandinavia yang menentukan serdadu mana yang harus mati dan tetap hidup dalam peperangan.
- Sombrero: topi khas Meksiko
- Ars longa, vita brevis: Ungkapan Latin yang berarti “Seni berumur panjang, hidup begitu singkat.”
Etgar Keret, sastrawan Israel
kelahiran 20 Agustus 1967 yang dikenal sebagai penulis cerita pendek,
novel grafis, dan skenario film dan televisi. Cerpen berbahasa Ibrani
ini diterjemahkan Saroni Asikin lewat terjemahan bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger dalam wordswithoutborders.org.
Category cerpen
Cerpen Cinta Sedih : Nyesek itu ketika..
.
Cerpen Cinta Sedih : Nyesek itu ketika..
Posted by Anisah Fauziyyah

Dia itu lucu, menggemaskan dan tampan. Bahkan sifatnya pun baik.
ooh.. sungguh, wanita mana yang tak jatuh hati padanya? Aku yakin, jika
kalian mengenal Nena lebih jauh.. kalian juga akan jatuh hati padanya
seperti aku!
Hmm.. Nena..Nena.. Kamu sempurna! Wajah kalem dan ganteng, kulit
putih, hidung mancung, rambut hitam dengan gaya funky, badan tinggi
besar dan kamu juga pinter!
Dan ditambah lagi dengan warna mata kamu yang bewarna coklat terang,! Kamu sempurna banget!
Aku membaca satu persatu kalimat yang kutulis dalam buku diary ku
malam ini. rasanya lucu juga jika membacanya berulang-ulang. Sudah lah,
aku tak bisa berharap terlalu banyak. Nena kan cowok keren dan tampan.
Peluang untuk PDKT dengannya pun sangat tipis, mengingat saingan ku yang
tak hanya satu atau dua orang melainkan ratus ribu! Gila!
Kemudian, ku tutup buku diary ku itu dan kutaruh di atas meja
belajar. Selanjutnya, aku merebahkan tubuh ku ke atas kasur yang empuk
dan lembut. Kupenjamkan kedua mata ku perlahan sambil kubentangkan kedua
tangan ku.
Pikiran ku mulai melayang, kugantungkan berbagai khayalan indah yang
kurajut dalam pikiran ku. Aku mulai berimajinasi kalau aku bisa
mendekati Nena lebih dari sahabat alias menjadi kekasih nya. Aku juga
berimajinasi kalau aku dan Nena membeli buku novel, sebuah coklat, dan
membeli sepasang cincin bersama-sama. Aah… manis sekali.
***
Pukul 13.20 di aula sekolah.
Aku menghela nafas dalam-dalam, rasa letih mulai menyerang ku
perlahan. Perasaan jenuh mulai kurasakan. hari ini aku tidak langsung
pulang seperti biasanya, aku harus mengurus keperluan teater untuk
pentas besok di aula kabupaten.
“Kak Alissa, naskah ‘kehilangan untuk selamanya’ kok nggak ada? Apa
masih ada di ruang sastra?” tanya Vallen, adik kelas ku sambil membawa
sejumlah kertas naskah yang warnanya menguning.
Aku menghela nafas dalam-dalam, huh baru saja duduk! Sudah ditanya lagi!
gumam ku dalam hati kesal. Aku memandang sekitar, kemudian kuambil
sejumlah kertas naskah dari tangan Vallen. Kuteliti satu persatu dan tak
kutemukan naskah ‘kehilangan untuk selamanya’. Aku kembali
menghembuskan nafas berat, berat untuk meninggalkan kursi yang tengah
kududuki.
“Mungkin ada di ruang sastra, yaudah aku mau ambil dulu! Tolong
dijagain dulu kegiatan nya ya!” pesan ku kemudian sembari meninggalkan
aula sekolah.
Sesampainya di ruang sastra, aku segera menuju rak naskah yang
letaknya dekat dengan jendela ruang sastra. Disana, ada sebuah lemari
kayu besar. Dimana semua isi naskah-naskah untuk teater berada.
Sebenarnya aku sangat malas untuk mencari naskah di dalam lemari itu,
sebab. Ada banyak naskah-naskah yang ditaruh di dalam lemari besar itu.
Ada kemungkinan kalau aku akan memakan waktu cukup lama untuk mencari
naskah ‘kehilangan untuk selamanya’.
“Hmm.. Alissa?” tiba-tiba seseorang memanggil ku dengan suara yang cukup ku kenal, itu suara Nena.
“Iyah? Ada apa Na?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya.
Nena terdiam, kemudian ia melangkah kan kedua kaki nya menuju tempat
ku berada. Kulihat kedua matanya tak henti memandang ku. yahh.. indah
sekali pandangan matanya yang begitu dalam.
“Hmm..gimana ya ngomongnya, Alissa. Kamu masih ngurusin acara teater
ya?” Nena bertanya sembari mendekati tumpukan kertas naskah yang ada di
hadapan ku.
“Iyah nih, Na. Kenapa emang? Ada perlu?” celetoh ku sambil meneliti satu persatu naskah yang ada di hadapan ku.
“Iyah.. pulang dari sekolah, kamu mau nggak kawanin aku ke toko buku?
Terus ke toko aksesoris? Hehe.. itu sih kalau kamu mau..” ucapan Nena
membuat jantungku berdetak kencang! Oh ya Tuhan! Benarkah itu? Mimpi apa aku semalam!
gumam ku dalam hati sembari tersenyum lebar. Rasanya aku baru saja
terbang menuju kayangan. Aku terdiam sejenak, aku masih tak percaya ini!
“Kamu enggak bisa ya Lis? Sorry..” ucap Nena sembari meninggal
kan ku karena sedari tadi aku hanya terdiam. Sebelum Nena melangkah
jauh, aku segera menarik tangan nya dengan erat. kemudian aku mengangguk
sembari tertawa.
“Aku mau kok! tapi.. kamu bantuin aku cari naskah ‘kehilangan untuk
selamanya’ ya!” pintaku dengan suara manja. Nena tertawa mendengar suara
ku, kemudian ia mengangguk pelan. Aku dan Nena kemudian mencari naskah
cerita itu bersama-sama.
Tumpukan kertas yang bewarna kuning itu kami teliti satu persatu sambil berbincang-bincang.
“Aah! Aku dapat! Ini dia!” seru nya senang sambil mengangkat sebuah
naskah cerita yang dari tadi kami cari. Aku tersenyum lebar, kemudian
kami berdua segera meninggalkan ruang sastra dan menuju aula sekolah
sambil berlari pelan.
***
“Ini! pake helm ini ya Alissa. Oh ya, menurut mu gimana warna helm
nya?” tanya nya sambil memberikan ku sebuah helm untuk wanita yang
bewarna hitam dengan gambar motif bunga dan hati yang bewarna pink pekat
serta ada gambar kupu-kupu nya di bagian atas kepala.
Aku tersenyum, ini adalah helm terlucu yang pernah ada. Aku
mengangguk. Kemudian kami mulai berangkat menuju kota. Selama
diperjalanan, aku tak henti-hentinya tersenyum. Ya! Bayangkan, kalian
sedang diajak date oleh seseorang yang kalian sayangi.
Suasana di kota lumayan sepi, jadi kami dengan mudahnya menuju toko buku tanpa ada nya gangguan macet.
“Cari novel yang menurut kamu itu paling bagus, pokoknya kesukaan
cewek banget deh! Nanti aku bayar. Oke!?” pinta Nena padaku ketika kami
berdua telah sampai di dalam toko buku bagian rak buku novel. Aku pun
mengangguk cepat.
Aku mulai menelusuri berbagai rak buku novel yang ada di toko buku
ini. dari yang bergenre romantis, horror, fantasi, realiti, dan
petualangan. Aku mulai meneliti setiap novel yang ada. Kulihat satu
persatu sinopsis novel nya dari setiap genre yang berbeda-beda.
Aku belum menemukan satu pun novel yang menurut ku menarik dan
berbeda. Ya kau tahu? Aku lebih banyak menemukan novel-novel yang
bertema pasaran dan sangat tidak menarik. Aku menghela nafas
dalam-dalam. Lelah juga mencari novel yang tepat.
“Gimana kalau ini aja Lis?” tawar Nena tiba-tiba sambil menunjukkan
sebuah buku novel lumayan tebal yang berjudul ‘Sebuah Awal Untuk
Permulaan’. Aku segera menyambar buku novel tersebut dari tangan Nena.
Kemudian kubaca sinopsis buku tersebut, dan ternyata sinopsis nya cukup
menarik! Aku pun tersenyum.
“Ini Na, keren! Kamu kok bisa tahu sih ini keren?” tanya ku ketika kami sedang membayar di kasir. Nena tersenyum simpul.
“Aku Cuma nebak aja.. hehe” ucap nya singkat.
Kemudian setelah membeli buku novel, kami berdua menuju toko
aksesoris yang berada di ujung kota. Disana, ada banyak aksesoris untuk handpone, gantungan kunci, untuk panjangan rumah dan lain-lain.
Nena menyuruh ku untuk memilih salah satu aksesoris handpone
yang bernuansa romantis dan unik. Aku pun mengangguk. Tak perlu lama
mencari, ketika mata ku menyapu pandangan di bagian rak gantungan handpone, aku menemukan sepasang gantungan kunci magnet couple yang sangat lucu dan keren. Dan seperti biasa, Nena lah yang membayar nya.
Kemudian kami menuju pojok toko aksesoris, disana menyediakan jasa
bungkus kado. Nena menyuruh ku untuk membungkus buku novel dan gantungan
handpone tadi di tempat jasa bungkus kado. Dan Nena juga menyuruh ku
untuk menentukan sendiri sampul kado apa yang menurut ku paling lucu,
unik, dan paling disukai cewek. Aku pun memilih sampul kado bewarna pink
dan bermotif berbagai macam gambar-gambar lucu bewarna putih dan hitam.
Setelah semua selesai, Nena tersenyum. Ia kemudian membisikkan sesuatu ke kuping ku.
“Habis ini kita bakal ke suatu tempat yang menurut ku indah banget,
kamu mau kan? Lagian ini masih jam empat.. oke?” ajak Nena, aku kemudian
meng-iyakan hal tersebut dengan senyum mengembang.
***
Taman bunga kota, adalah tempat yang Nena tuju. Sebenarnya ini adalah
tempat yang terlalu pasaran menurutku. Tetapi, ada yang beda. Di taman
bunga kota ini lebih indah dan sangat luas. Disini ada banyak berbagai
macam bunga-bunga dari seluruh belahan dunia. Bunga-bunga nya pun
dirawat sebaik mungkin. Tempat nya asri dan romantis. hmm.. tepat! Celoteh ku dalam hati.
Kami berdua duduk di bangku taman yang bewarna putih pekat. Tiba-tiba
Nena tersenyum manis dan memandang kedua mataku dengan dalam dan indah.
“Kamu tahu? Nggak ada seorang pun yang menurut ku indah selain kamu!
Kamu lebih indah dari pada bunga mawar yang ada di taman ini. kamu
bahkan memiliki pandangan mata yang sangat indah dan tulus. Kasih mu
menemani hari-hari ku sungguh kurasa, ini seperti mimpi yang nyata. Tapi
kali ini, aku akan menyatakan semuanya.. aku menyukai mu.. aku
mencintai mu… selamanya..” tutur Nena dengan nada yang sangat
menggetarkan hati. Kata-katanya meluluh lantah kan hatiku, aku ingin
menangis, menangis haru. Aku merasa sangat bahagia.
“Menurut mu gimana kata-kata ku tadi, Lis?” tanya nya. Aku terdiam sembari tersenyum.
“Bagus banget Na.. ngeresap dalam hati deh!” puji ku sambil tertawa, Nena pun ikut tertawa.
“Oh ya.. besok kamu bawa yang barang-barang tadi yang kita beli,
nanti pulang sekolah temui aku di sini! Okeh!” pintanya. Aku tersenyum
senang. Nena menyukai ku! ya ampun! Gumam ku dalam hati.
***
Sepulang sekolah, aku segera menuju taman kota. Untung saja jarak nya
tidak terlalu jauh dari sekolah ku, jadi aku tinggal naik angkot sekali
saja.
Setiba disana, kulangkah kan kedua kakiku menuju bangku taman yang
kemarin aku dan Nena tepati. Dalam hati aku berseri-seri, rasanya hidup
ku terasa baru dengan nuansa manis yang baru saja ditaburi seseorang
yang selama ini kupuja.
Ketika sampai di bangku taman itu, Nena segera mengambi barang-barang
yang kemarin kami beli dari tangan ku. kemudian Nena tersenyum dan
berkata.
“Kok diambil lagi?” tanya ku heran sembari mengkerutkan dahi.
“Oh iyah.. aku lupa. Makasih ya Alissa kemarin udah mau nemenin aku
buat beli semuanya dan makasih juga buat komentar kamu soal kata-kata ku
kemarin dan helm itu! Ini bakal ngebantu aku banget ! makasih!” katanya
polos. Aku makin bingung dibuatnya.
“Maksud kamu?”
“Semua barang yang kita beli kemarin dan kata-kata itu sebenarnya
buat ke Vellysa. Gadis pujaan ku. hari ini aku sama dia udah janjian
buat ketemuan disini, sebentar lagi juga dia datang. Dan kemarin aku
ajak kamu buat beli barang-barang ini soalnya aku kurang tahu apa aja
yang disukai cewek soal buku novel, aksesoris, kata-kata, dan helm. Jadi
makasih ya, kemarin kamu udah bantuin aku! Kamu bener-bener teman
terbaik ku yang pernah ada kamu udah kasih penilaian !” ucapan Nena
bagai petir yang menyambar. Aku merasakan jantung ku berhenti berdetak,
aliran darah ku terasa terhenti.. hati ku tertusuk-tusuk dan aku
merasakan goresan luka paling dalam.
Aku terdiam.. tak bisa bicara. Aku terpatung.. tak mampu
bergerak.hatiku hancur sudah, rasanya aku seperti tertimpah bangunan
besar yang membuatku sekarat dalam kesakitan.
Aku meneteskan air mata kepedihan, aku tak menyangka kalau sebenarnya
itu semua bukan untukku. Tetapi untuk Vellysa, gadis pujaanya. Ya
Tuhan.. ini begitu menusukku hatiku! Dan saatnya aku berkata..
“NYESEK!!”
Category cerpen
Berliburke Ke Kota Yang Tak Pernah Ku Lupakan
.
Setiap pagi embun menjemputku membersihkan rumah nenek membersihkan
halaman, sangat senang sekali hatiku melihat indahnya pemandangan di
kota itu, setelah ku membersihkan rumah dan halaman lalu ku mandi,
setelah ku mandi lalu ku jalan-jalan ke mall ke toko toko yang megah,
setelah itu aku memasuki satu toko yang bernama toko ekxotik, aku
melihat di toko itu banyak sekali turis yang datang berbelanja ke toko
itu.
Tidak beberapa lama aku langsung menghampirinya lalu kami
berkomunikasi, setelah beberapa jam kami menggomong lalu aku berpamitan
untuk keluar dari toko, itu setelah aku selesai berbelanja lalu aku
pulang, satu langkah ku ingin menginjak rumah aku melihat seorang anak
kecil yang cantik, aku menghampirinya dan berkenalan setelah itu aku
langsung memasuki rumah dengan senang.
Malam hari pun tiba setelah sholat magrib aku dan saudaraku berjalan
jalan tidak beberapa jam kami melihat ada orang yang berjualan es
teler, aku dan saudaraku pun membeli es itu, rasanya enak, kemudian kami
berjalan jalan melewati pasar, toko-toko, mall dan pelabuhan, kami
melihat berbagai macam makanan mulai dari roti bakar, mie ayam, es teler
dan bebagai macam makanan dan minuman, setelah itu aku pulang dan
langsung tidur.
Pagi hari kemudian ternyata aku harus pulang ke kota ku, sangat sedih
hatiku mendengar itu, lalu aku berpamitan kepada nenek, bibi, om,
paman, para saudara, para tetangga, para sahabat, para kerabat, dan aku
kakakku adiku bapak dan mama ku kami akan pulang untuk selama lama nya.
Sesampai kami di pelabuhan kami akan menaiki kapal yang bernama kmp
cakalang, akhirnya kami sudah naik semua mulai dari aku kakaku adikku
bapak dan mamaku, bibi dan om ku mengantar kami ke kapal, tidak beberapa
lama bibi dan om ku harus turun karena kapal ingin lari, akhirnya
mereka turun dari kapal, setelah kapal lari aku bilang selamat tinggal
labuan bajo sampai ketemu lagi.
Cerpen Karangan: Maratul Mufariha ( Rira )
Blog: maratulmufarihablogspot.com
Category cerpen




